Jembatan Kaca di Tempat Wisata, Demi Estetika Jangan Jadi Petaka

Jembatan Kaca di Tempat Wisata, Demi Estetika Jangan Jadi Petaka

Jakarta, CNN Indonesia

Wahana jembatan kaca di tempat wisata bukan hal baru di Indonesia. Sejak 2017, satu per satu destinasi wisata dengan atraksi jembatan kaca hadir disambut antusiasme wisatawan.

Namun, eksistensinya menuai pro dan kontra, terutama setelah tragedi seorang wisatawan tewas karena terjatuh akibat pecahnya jembatan kaca di The Geong di Banyumas, Jawa Tengah, pada 25 Oktober lalu.

Wahana jembatan kaca biasanya dimanfaatkan pengunjung dengan berjalan melintas di atas permukaannya, lalu kemudian berswafoto atau berfoto. Faktor estetika menjadi pertimbangan dibangunnya jembatan kaca di tempat wisata.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fungsi jembatan kaca di tempat wisata jauh dari alasan sebagai penghubung lokasi satu dengan lainnya. Jembatan kaca kerap menjadi daya tarik bagi wisatawan pemburu latar foto yang keren atau estetik.

Teranyar, jembatan gantung kaca Seruni Point di kawasan wisata Gunung Bromo segera diresmikan. Terdapat insiden di jembatan kaca Bromo, kala Khofifah Indar Parawansa, yang kala itu masih jadi Gubernur Jawa Timur, terpeleset jatuh saat berjalan di Jembatan Kaca Seruni Point.

Popularitas destinasi wisata dengan jembatan kaca meroket pada abad ke-21, dan didominasi oleh negara Asia, khususnya China, di mana hingga tahun 2019, diperkirakan terdapat sekitar 2.300 destinasi berproperti kaca, seperti dikutip dari BBC.

Jembatan gantung kaca tertinggi dan terpanjang juga ada di Asia, yakni Zhangjiajie Grand Canyon, yang dibangun pada 2016 di Hunan, China, berada di ketinggian 300 meter di atas permukaan tanah. Jembatan kaca ini disebut sebagai yang tertinggi di dunia.

Ada pula Bach Long Bridge (2022) di Vietnam, panjangnya hingga 633 meter sebagai yang terpanjang di dunia.

Namun, China juga punya catatan merah kasus kecelakaan jembatan kaca. Contohnya, awal 2019, seorang turis meninggal dunia dan enam lainnya terluka setelah terpeleset di sebuah jembatan kaca yang terkena air hujan di Provinsi Guangxi.

Pada 2021, seorang turis harus berpegangan di sisi jembatan setinggi 100 meter di tengah hantaman angin kencang yang membuat kaca pada jembatan pecah dan berjatuhan.

Belum diketahui pasti di mana destinasi di dunia yang pertama kali memanfaatkan kaca sebagai permukaan transparan di atas jurang. Namun, pada 2007 sudah dibuka destinasi jembatan layang (skywalk) berproperti kaca di Amerika Serikat.

Melansir dari lama Canyon Collective wahana itu tingginya 12 ribu meter melayang membentuk huruf U di atas ngarai di Green Canyon West, Arizona. Namun, jenisnya bukan jembatan gantung atau jembatan dengan penopang ke tanah, tapi kantilever yang hanya ditumpu oleh salah satu ujung tebing.

Jembatan Kaca di Indonesia

Di Indonesia, wahana jembatan kaca juga kian populer. Setidaknya, sudah ada lebih dari sepuluh wahana jembatan atau teras kaca dibangun di tempat wisata Indonesia.

Yang pertama, berdiri pada 2017 di Kampung Warna-Warni Malang, yaitu jembatan sepanjang 25 meter memiliki konstruksi semen dengan properti kaca di tengahnya. Menyusul dibangunnya jembatan kaca lebih besar di berbagai daerah dan destinasi lain.

Salah satu yang terkenal adalah jembatan kaca Buntu Burake di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Jembatan di atas tebing curam ini mulai dibangun sejak 2017 dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp3,9 miliar dan mulai beroperasi pada 2018. Namun, usianya hanya sekitar 1-2 tahun karena adanya keretakan kaca dan untuk menghindari kecelakaan, ditutup hingga kini.

Seiring berjalannya waktu, wahana jembatan kaca di Indonesia mulai menjamur, seperti lahirnya destinasi Kemuning Hills di Solo, teras kaca Pantai Karapyak di Pangandaran, Lereng Cibolang di Banten, The Geong di Banyumas, hingga jembatan gantung kaca yang akan segera diresmikan di Bromo.

Pada momen berdekatan, Indonesia juga baru memiliki jembatan gantung kaca pertama yang terletak di Kawasan Strategis Wisata Nasional Bromo-Tengger- Semeru, Jawa Timur. Jembatan Seruni Point ini dibangun oleh Kementerian (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) PUPR sejak 2021, sudah dilakukan uji beban, diklaim aman dan dikabarkan segera diresmikan.

Semua mata tentu akan tertuju pada jembatan kaca gantung di Bromo ini yang pembangunannya menghabiskan dana Rp15 miliar. Setelah sempat dikabarkan akan diresmikan pada November 2023, pembukaan jembatan kaca Seruni Point di Bromo diundur dan baru dibuka pada Januari 2024.

“Rencana jembatan Seruni Point ini akan dibuka untuk umum setelah diresmikan Presiden Joko Widodo. Untuk peresmiannya rencananya dilakukan pada Januari 2024 akan datang,” tulis Pemkab Probolinggo, melalui laman resminya, Jumat (15/12).